KER(TA)S KEPALA
Isi Kepala Liar Seperti Kutu Loncat
Namun, berlaku adil dan berdamai dengan keduanya, memang tak mudah. Banyak keadaan dan pilihan, hingga menjadikan salah satunya, sebagai korban. Entah hatinya, atau isi kepalanya. Tentu, dengan alasan masing-masing. Aneh, memang. Sama-sama sakit. Ndak enak.
Kenyataannya, manusia memang selalu dihadapkan pada pilihan. Apa boleh tidak punya pilihan? Siapa pula yang melarang. Siapa pula yang menciptakan kehendak, hasrat, mimpi dalam diri manusia? Mungkin, itu alasan manusia menyebut dirinya sebagai mahkluk mulia. Ciptaan paling beradab. Sempurna ketimbang seekor babi. Apa demikian nafsunya hingga manusia menciptakan alasan-alasannya untuk dirinya sendiri. Toh, anjing juga tidak mengaku paling mulia ketimbang babi.
Ah, manusia memang butuh untuk menghibur dirinya. Sebuah lawakan, agar hidupnya tidak dikoyak kesepian. Modyar kowe.
Hidup waras nyatanya butuh perjuangan. Apalagi maunya, bahagia tapi sederhana. Sialnya, hidup di muka bumi ini, tidak ada yang gratisan. Tetap ada harganya. Kata siapa sederhana itu murah? Apalagi maunya bahagia. Sederhana pun sudah menjadi politik dagang. Buktinya, makan di warung sederhana atau di warung padang, ongkosnya tetap sama. Monggo tergantung sampeyan mau nawar berapa harga bahagia tapi sederhana. Boleh tanya di warung sebelah.
Nah, saya obrak-abrik lagi isi kepala dan hati. Bongkar sampai akar-akarnya. Maunya apa agar sederhana tapi bahagia. Titik cerahnya, jatuh malam ini, 11 April 2018. Entah syetan apa yang datang, api menulis di blog muncul lagi. Dulu pernah bikin dua atau tiga blog. Tapi sepertinya sudah berkarat jadi tai besi. Nah lho!
Baiklah, mungkin perlu jeda begitu. Berkarat tapi bukan berarti sekarat. Lakon menulis tetap hidup. Namun kadang, redup nyala. Kecuali, rajin berkata-kata di kotak status dan media sosial lainnya. Lantas, buat apa juga rajin-rajin menulis di status media sosial? Biar lebih terlihat bahagia? Murung? Benci? Ada untungnya buat hidup kalian? Nikmati saja toh paket internetnya juga tidak gratisan. Tuh, nulis status saja butuh ongkosnya. Bahagia memang sederhana. Cuh!
Seperti narasi ceramah keagamaan, doa adalah penutup terbaik. Serendah-rendahnya iman, doa adalah kebahagiaan yang tidak dipungut biaya. Eh, bayar juga sih. Dua ribu sama seratus ribu, doanya beda. Puas. Mari kita tutup saja tulisan ini. Sebagai prolog tentang Ker(ta)s Kepala biar tetap waras. Tetap menulis sampai mampus!


Comments
Post a Comment